by

LSI: Dondokambey Teratas, Lasut Mengejutkan

-Aktual-1,766 views

MANADOPOSTONLINE.COM—Prediksi siapa saja yang akan menduduki 6 kursi DPR RI asal Sulawesi Utara (Sulut) mulai mengemuka. Kamis (11/4) kemarin, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) membeber enam calon anggota legislatif yang bisa saja duduk di Senayan.

Peneliti Senior LSI Denny JA menyebutkan, enam caleg yang lolos ke DPR RI, berdasarkan perhitungan kursi dengan perkiraan metode Sainte Lague berdasarkan suara tertinggi di partai.

“Dari PDIP ada empat orang, yaitu Adriana Dondokambey, Vanda Sarundajang, Herson Mayulu dan Jantje Wowiling Sajow. Sementara dari Partai Golkar ada Jerry Sambuaga. Satu lagi dari Partai NasDem yaitu Hillary Brigita Lasut,” ungkap Denny JA, dalam konferensi pers di Hotel Aryaduta Manado, kemarin.

Menurut dia, survei LSI tersebut dilakukan pada tanggal 1-5 April. Dengan jumlah 600 responden dari perwakilan daerah pemilihan (Dapil) yang ada di Sulut. Dengan teknik wawancara tatap muka dan menggunakan kuesioner. “Margin error survei ini 4.1 persen ke atas dan ke bawah. Bisa naik 4.1 persen dan bisa turun 4.1 persen,” sebutnya lagi.

Dia juga menjelaskan, faktor politik tidak akan berpengaruh signifikan dalam pemilihan DPR RI, dalam sisa waktu kurang lebih tujuh hari. “Karena politik uang untuk caleg DPR RI hanya sebagai pelumas. Dalam artian hanya sebagai operasional tim,” tandas Denny JA.

Terkait hasil survei tersebut, Pengamat Politik Charles Tangkau mengatakan, sejauh ini menurutnya hasil survei yang dihasilkan akurasinya sangat tepat. “Kalau dipresentasikan itu bisa mencapai 90 persen (tepat),” ungkapnya saat di wawancara harian ini kemarin.

Menurutnya, target yang diberikan Ketua DPD PDIP Sulut Olly Dondokambey bisa tercapai. Dia menjelaskan, jumlah kursi yang akan didapatkan PDIP tentu tidak akan lepas dari strategi yang dikeluarkan ketua partai.

Dari Golkar, menurut Tangkau, sejauh ini strategi yang dijalankan Jerry Sambuaga bisa menyegel satu kursi. Tetapi akan ada pertarungan mati-matian. “Sebab didalamnya ada Adrian Jopie Paruntu putra dari ketua DPD Golkar,” ucap dia lagi.

“Tapi Golkar hanya bisa menyegel satu kursi dan peluang terbesarnya dikunci Jerry Sambuaga karena strategi dominannya, apa lagi Jerry ini punya strategi pada injury time dan itu sudah menjadi gayanya,” pandang Tangkau.

Ditambahkannya, terkait survei yang pasti mempunyai teknik pendekatan yang sama ke komparatifnya memakai random sampling, walaupun mengambil random samplingnya berbeda-beda. “Sekurang-kurangnya nama yang dihasilkan survei tidak akan lari jauh,” tuturnya.

Senada dikatakan Pengamat Politik Ferry Daud Liando. Munculnya 4 nama caleg dari PDIP yang berpotensi ke Senayan tidak mengagetkan karena PDIP memang berpotensi akan meraih suara mayoritas. Penyebabnya antara lain 1, PDIP Sulut diuntungkan dengan calon Presiden Jokowi. Pilihan publik terhadap capres kemungkinan akan berkorelasi dengan pilihan terhadap parpol yang mengusung.

Kedua, faktor gubernur Sulut yang merupakan kader PDIP mempengaruhi sikap pemilih. “Kepemimpinan Pak Olly banyak yang bersimpati sehingga berdampak pada dukungan terhadap PDIP,” beber Akademisi Unsrat itu.

Ketiga, PDIP adalah satu-satunya parpol yang paling solid. Baik struktur maupun kelembagaan. Parpol yang kerap dilanda konflik sangat sulit berkonsolidasi dengan baik sehingga mengganggu kekompakan kader dalam meraih dukungan.

Keempat, PDIP merupakan salah satu parpol yang mengoleksi banyak kader yang menjabat sebagai kepala daerah. Pengalaman pada pemilu 2014, calon yang didukung kepala daerah selalu memperoleh suara yang dominan.

“Kepala daerah memiliki jaringan birokrasi yang kuat serta memiliki pengaruh dan menguasai distribusi bansos. Munculnya ibu Vanda Sarundajang kemungkinan besar karena tidak terlepas dari pengaruh Pak Sarundajang (mantan gubernur Sulut). Meski tak menjabat lagi namun, perjuangan Pak Sarundajang masih dikenang masyarakat,” sebut Liando.

Begitu pula munculnya nama JWS. Kemungkinan besar karena simpati publik terhadapnya tidak melakukan perlawanan ketika dicoret sebagai calon bupati Minahasa tahun yang lalu.

“Pendukungnya banyak dari tokoh-tokoh GMIM serta para guru-guru di Minahasa. JWS pun begitu serius mengembangkan olahraga bola volly yang banyak penggemarnya dari anak-anak muda,” jelas Ketua Jurusan Fispol Unsrat ini.

Sama halnya dengan Jerry Sambuaga. Kemungkinan besar datang dari pemilih rasional atau pemilih dari perkotaan. Jerry memiliki kemampuan intelektual yang bagus bahkan lulusan dari doktor ilmu politik dari UI dan tingkat kecerdasannya diakui.

“Sosok Pak Theo Sambuaga ayahnya merupakan politisi senior, mantan menteri dan berkali-kali jadi anggota DPR tentu menjadi salah satu faktor pendukung. Jerry juga bisa diandalkan pemilih pemula,” tuturnya.

Begitu pun dengan Hillary lasut kemungkinan melekat nama besar ayahnya Elly Lasut. Namun demikian saya kurang meyakini apakah nama-nama ini bisa bertahan. Karena hasil ini merupakan produk survei, bukan quickcount.

Menurut Liando, hasil survei sangat bermanfaat. Terutama untuk pemetaan masing-masing parpol. Namun demikian hasil Survey tidak serta merta akan stabil sampai pada pencoblosan.

“Survey berbeda dengan quick count atau hitung cepat. Survei itu mengukur persepsi publik pada saat survei dilakukan. Persepsi orang biasanya akan sangat tergantung pada dinamika yang sedang terjadi pada saat survei. Dinamika politik yang tidak stabil tentu berpengaruh pada perubahan persepsi seseorang sehingga persepsi publik hari ini, berpotensi akan berubah pada saat pencoblosan. Misalnya, Pilkada DKI hampir semua lembaga survei selalu menempatkan Ahok di urutan teratas. Namun faktanya berubah saat pencoblosan,” kuncinya.(opn/gnr)

(Sumber: BeritaManado.com)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed